Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan

52.636 keluarga di Pati terkena dampak banjir

Banjir Pati - Dua bocah menyaksikan tayangan televisi di rumahnya yang tergenang banjir di desa Widorokandang, Juwana, Pati, Jateng, Minggu (19/1). Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, akibat meluapnya Sungai Juwana ratusan rumah di 29 desa yang berada di 10 kecamatan tergenang banjir antara 20-100 cm. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko) ()

Pati (ANTARA News)) - Sebanyak 52.636 keluarga atau 178.222 jiwa yang tersebar di 20 kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terkena dampak bencana banjir yang melanda daerah setempat sejak sepekan terakhir.

"Jumlah warga yang terkena dampak banjir, dimungkinkan masih bisa berubah, karena ada daerah yang ketinggian genangan banjirnya semakin bertambah dan ada pula yang berkurang," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Sujono, ditemui di Pati, Sabtu.

Dari puluhan ribu warga yang terkena dampak banjir tersebut, katanya, sekitar 17.915 jiwa atau 4.191 keluarga harus mengungsi.

Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan bisa lebih dari jumlah itu, karena ada pula yang mengungsi ke rumah saudaranya yang tidak terkena dampak banjir.

Sebanyak 17.915 jiwa yang mengungsi tersebut, kata dia, berdasarkan hasil pendataan di sejumlah lokasi pengungsian yang disediakan oleh pemerintah setempat.

Jumlah desa yang mengalami banjir mencapai 149 desa yang tersebar di 20 kecamatan.

Dari puluhan desa tersebut, katanya, terdapat beberapa desa yang mengalami dampak banjir paling parah, di antaranya Desa Mintobasuki Banjarsari, Kosean, Pantirejo (Kecamatan Gabus), Wotan, Poncomulyo (Sukolilo), Kasian, Baturejo (Gembong), dan beberapa desa di Kecamatan Juwana.

Ketinggian genangan banjir di masing-masing daerah, katanya, bervariasi, karena ada yang mencapai ketinggian hingga 1 meteran lebih.

Selain menggenangi pemukiman warga, banjir di Kabupaten Pati juga menggenangi lahan pertanian yang luasnya diperkirakan mencapai 11.832 hektare.

Belasan ribu hektare lahan pertanian yang tergenang banjir tersebut, tersebar di 10 kecamatan.

Kesepuluh kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Batangan, Sukolilo, Jakenan, Pati Kota, Tayu, Gabus, Kayen, Wedarijaksa, Juwana, dan Dukuhseti.


View the original article here

READMORE
 

Pengamat: Jakarta telat atasi banjir

Sejumlah Alat berat melakukan pengerukan lumpur di Waduk Pluit, Jakarta, Kamis (26/9). Pemerintah DKI Jakarta akan menggunakan lumpur waduk di Jakarta untuk menguruk atau mereklamasi pantai di pesisir Jakarta dan sebagai bentuk normalisasi waduk.(ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Kalau mau serius, tahun depan harus sejak awal dikeruk dan segera ditata di sekitar waduknya."
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terlambat dalam mengantisipasi banjir akibat pencairan anggaran APBD yang juga terlambat. "Kinerja Pemprov belum maksimal, pokok persoalannya ada pada waktu pengerjaan, waktu pengerjaan baru dimulai pada akhir tahun, November atau Oktober, pas musim hujan lagi," kata Nirwono saat dihubungi ANTARA News, Jumat.

Nirwono mengatakan seharusnya pengerjaan dilakukan pada awal tahun saat musim kemarau sehingga hasil pengerjaan bisa optimal.

Nirwono menilai, hal itu diakibatkan karena pencairan anggaran APBD selalu dilakukan di akhir tahun sehingga pengerjaan baru bisa dimulai akhir tahun juga.

"APBD harusnya disahkan oleh DPRD awal tahun sehingga bisa langsung dilaksanakan tidak menjelang akhir tahun," katanya.

Dalam pengerjaannya, seharusnya Pemprov berfokus pada pengerjaan hal-hal yang penting seperti segera memperbaiki saluran drainase.

"Selama setahun fokus ke situ karena seperti yang kita tahu banyak genangan air kemarin lebih banyak ke situ kan, selain itu segera keruk waduk dan situ," katanya.

Nirwono mengatakan idealnya dalam setahun 10 waduk bisa dikeruk dari jumlah keseluruhan 42 waduk dan 14 situ.

"Tahun ini kan baru Waduk Ria Rio dan Pluit aja kan, yang 10 waduk baru dikeduk awal dan itu belum maksimal. Kalau mau serius, tahun depan harus sejak awal dikeruk dan segera ditata di sekitar waduknya," kata Nirwono.

Selain melakukan pengerukan, Pemprov juga harus memikirkan matang-matang mengenai hasil kerukan waduk.

"Kalau hanya dikeruk lalu ditaruh di pinggir, nanti waktu hujan masuk lagi, ini bukan hanya sekedar mengeruk dan memindah isi kerukannya, tapi harus diiringi penataan waduk agar optimal, ini kan belum ada anggarannya, maka harus segera dikeluarkan agar tahun depan bisa segera serentak," katanya.

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © 2013

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com


View the original article here

READMORE
 

1.000 siswa dan guru terjebak banjir di China

Topan Super Haiyan saat bergerak ke pantai Filipina dalam citra Spectroradiometer (MODIS) satelit Aqua NASA pada 7 November 2013. Menurut Joint Typhoon Warning Center, Haiyan bergerak dengan kecepatan angin 280 kilometer per jam saat pengukuran dilakukan. (LANCE/EOSDIS MODIS Rapid Response Team at NASA GSFC)

Nanning (ANTARA News) - Lebih dari 1.000 siswa dan staf pengajar satu sekolah menengah di China Barat-daya terjebak banjir setelah hujan badai yang dipicu oleh Topan Super Haiyan melanda daerah tersebut, kata beberapa petugas pertolongan pada Selasa.

Hujan lebat membuat Sekolah Menengah No.1 terendam di Sanli, Kota Guigang, Wilayah Otonomi Guangxi Zhuang, pada pukul 07.03 waktu setempat, Selasa, dan ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Semua orang yang terjebak di gedung sekolah tersebut telah dipindahkan ke lantai dua atau yang lebih tinggi, sementara operasi pertolongan sedang berlangsung, kata Xinhua.

Hujan lebat mengguyur Guangxi saat Topan Haiyan mencapai wilayah tersebut pada Senin pagi (11/11).

Hujan lebat telah menewaskan satu orang dan mempengaruhi hampir satu juta orang di Guangxi. Sebanyak 250.000 orang kehilangan tempat tinggal dan 249 rumah ambruk.

Topan Haiyan telah menewaskan enam orang di China, termasuk empat orang di Provinsi Hainan. Mereka tewas setelah cedera terkena pecahan kaca atau tembok, dan dua dari tujuh anggota anggota satu kapal barang yang berbendera Guangxi.

Tambang kapal yang sedang berlabuh tersebut putus pada Minggu (10/11). Dua mayat ditemukan pada Senin, dan sisa lima anggota awak kapal belum ditemukan.

(C003)


View the original article here

READMORE